Saya kurang tau, namun mungkin ada baiknya saya tetap menjaga aura positif yang saya punya untuk tidak terlalu berdekatan dengan tante. Menurutku, tante terlalu negatif dan kerap kali membuat semangat positif saya kendur. Untuk sementara, saya akan jaga jarak, semoga tante berbahagia tanpa harus bertemu denganku dahulu.
Friday, 7 February 2014
Maafkan Tante, saya juga punya perasaan.
Saya kurang tau, namun mungkin ada baiknya saya tetap menjaga aura positif yang saya punya untuk tidak terlalu berdekatan dengan tante. Menurutku, tante terlalu negatif dan kerap kali membuat semangat positif saya kendur. Untuk sementara, saya akan jaga jarak, semoga tante berbahagia tanpa harus bertemu denganku dahulu.
The story behind me
Saya bukanlah orang yang suka sok perhatian ataupun yang bisa memberikan perhatian yang berlebihan kepada keluarga, teman ataupun pacar sekalipun. Bukannya tidak ingin menjadikan hubungan yang lebih dekat, namun sejak kecil saya diajarkan untuk mandiri dan tangguh. Mama dan Papa saya bukanlah seperti orang tua di film yang senang bermain dengan anaknya saat masih kecil. Sebab saya sama sekali tidak punya kenangan itu. Mereka mengajarkanku untuk dapat melakukan banyak hal sendiri dan tidak cengeng. Bahkan kakak-kakakku tidak pernah memanjakanku. Saya masih ingat saat ingin membaca komik milik salah satu kakakku saja saya harus membayar uang sewa. Saat Papa mengetahui hal itu, beliau mengatakan, "Biar bapak yang bayar." namun kakak saya melarang dan mengatakan agar saya jangan dimanaja. Demikian masa kecilku yang penuh dengan persaingan dengan salah seorang kakakku yang berbeda 6 tahun dariku.
Wednesday, 5 February 2014
Posisi Modal dalam sebuah usaha baru
Apa yang orang katakan saat ingin memulai usaha?
Monday, 20 April 2009
Sudut kota Metropolitan
Memiliki makna yang sangat luas yang dapat kita pahami secara perlahan sedikit demi sedikit. Berbagai macam kejadian dan hiruk pikuk kota metropolitan, sedikit banyak membuatku bertanya-tanya dan menjadi sedikit termenung.
Pengemis
Setiap hari saat makan siang, pemandangan warung makan yang berjejer disekeliling lingkungan kantor dengan berbagai makanan dan jajanan yang cukup mengundang selera. Kebetulan dikantorku tidak disediakan kantin untuk karyawan, oleh sebab itu para karyawan yang bekerja di gedung tempat kantorku juga berada akan menyerbu rentetan warung makan yang ada setiap waktu menunjukkan pukul 12.00 – 13.00. ternyata, bukan kami yang karyawan saja yang menyerbu warung-warung makan, para pengemis dan pengamen pun memulai jam kerja mereka di warung warung tersebut saat kami beristirahat. Tadinya saya tidak begitu memperhatikan para pengemis ini, saya terlalu sering mengacuhkan mereka dan berkata “maaf” kepada mereka yang hendak meminta uang. Badan para pengemis terlihat masih sehat, nampak sedikit kumal tapi tidak jorok. Beberapa diantaranya bahkan berbadan cukup gemuk. Ia adalah seorang ibu berumur sekitar 40 tahun, badannya tidak begitu tinggi, rambutnya panjang sedikit memutih digulung ke atas. Ibu ini cukup sering, bahkan setiap hari kerja saya melihatnya meminta minta kepada karyawan yang sedang makan ataupun menunggu makanan dari satu warung ke warung lainnya. Tak jarang ia pun meminta kepadaku, namun selalu kuabaikan sebab saat itu saya sedang makan dan sulit untuk mengeluarkan uang, disamping itu saya pun tidak suka dengan perilaku pengemis yang seperti ini. Memiliki badan yang sehat, namun tidak mau bekerja. Ibu ini juga cukup telaten dalam menjalani profesinya sebagai seorang pengemis, tak tanggung tanggung ia kadang memaksa untuk diberikan sedekah. Hanya dapat menghela nafas dan mencoba merasakan apa yang dirakan olehnya. Mungkin ia juga tidak pernah ingin untuk menjadi pengemis, namun keadaan memaksanya untuk memilih menjadi pengemis. Ia sebenarnya memiliki akses untuk memilih kehidupan yang berbeda untuk tidak menjadi pengemis, namun saat ini ia mungkin berfikir bahwa menjadi pengemis adalah pilihan yang terbaik dari sekian banyak pilihan yang tentu saja mampu ia pilih.
Selengkapnya...
Tuesday, 24 March 2009
Kapan kita bertemu lagi?
Semenit yang lalu, saya membaca blog seorang kawan...
Seketika pikiranku melayang terhadap sesosok sahabat lama yang kini tlah pergi
Ia sahabatku, sahabat pertamaku. Ia menemukanku, dan aku menemukannya.
Kami bersama sejak SD sampai akhirnya saat lulus dari SD Ia pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Berpisah dengannya sungguh membuatku sedih.
Aku menangis semalaman, meraung raung sampai mataku bengkak
Aku seakan menyalahkan diriku sendiri yang egois karena sehari sebelum kepergiannya ke Jakarta aku sempat marah padanya
Sampai akhirnya Ia pergi tanpa pamit padaku. Aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan sampai akhirnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya atau bahkan mendengar suaranya.
Aku mencarinya, dan aku menemukannya lagi.
Aku menemukan alamatnya di Jakarta dan aku mulai menuliskan surat pertamaku dengan linangan air mata karena sedih yang mendalam. Saat itu aku masih sangat kecil, namun hati kecil ini tau, Ia sahabatku yang sangat aku sayang.
Waktu itu belum ada jamannya hand phone, sms bahkan email. Surat menyurat adalah cara yang umum digunakan.
Saat menerima surat balasannya yang pertama, hati ini sangat bahagia, aku sangat berseri-seri sebab aku tetap bisa melanjutkan kisah persahabatanku dengannya.
Setiap bulan aku pasti akan menerima satu surat dari nya, dan aku akan segera membalas surat itu. Aku masih ingat, saat pulang sekolah, hal pertama yang kulakukan begitu sampai didepan pintu rumah, adalah membuka kotak surat.
Saat menemukan surat balasannya, rasanya aku menemukan harta karun dan senyum diwajahku menemaniku berjalan menuju pintu rumah. Aku melewati masa-masa puberku bersamanya, banyak kisah yang kami ceritakan dan aku sangat bahagia bisa berbagi dengannya. Kadang aku egois bila Ia terlambat mengirimkan surat, aku akan segera mengirimkan surat lagi padanya dan bertanya mengapa Ia terlambat mengirimkan surat. Sejak saat itu Ia tidak pernah terlambat lagi mengirimkan surat, sebab Ia tau, aku sangat khawatir bila Ia tidak segera membalas suratku.
Kami melewati persahabatan ini selama lebih dari 4 tahun hanya melalui surat menyurat, tanpa email bahkan tanpa telepon. Kini Ia tlah pergi, 8 tahun yang lalu, tanpa sempat kumengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kali. Mungkin kau tidak pernah ingin mendengarkan kata perpisahan itu sehingga kamu pergi selalu tanpa pamit padaku. Aku hanya bisa turut mengantarkan abu mu ke peristirahatanmu yang terakhir di dunia. Semua surat-suratmu aku simpan dengan baik, aku tidak berani membacanya lagi, aku pasti akan menangis. Kenanganmu akan selalu bersamaku, sebab persahabatan kita kekal tak dimakan waktu
Aku yakin, kita pasti akan bertemu lagi
Dalam kenangan, Indri..
Selengkapnya...
Monday, 23 March 2009
Penolakan
Penolakan sungguh menyakitkan.
Apalagi saat anda ingin melakukan sesuatu yang anda inginkan dengan sukareka namun berujung dengan penolakan.
Aku jarang sekali merasa pahit bila ditolak, sebab kadang penolakan yang kuterima biasanya sudah bisa kuprediksi. Jadi bila ditolak, it is doesn't matter.
Jarang sekali aku ditolak untuk prediksi tidak ditolak.
Salah satunya terjadi hari sabtu kemarin
Aku ingin mendonorkan darahku dan ditolak. Ternyata Hb ku hanya 12.3 tidak mencukupi untuk minimal standar 12.5
Syok dan sempat tertegun.
Aku tidak percaya ini!!!Aku merasa sebagai sosok yang sehat dan tidak pernah merasa kurang fit. Aku olah raga, minum susu, semua untuk hidup sehat.
Aku bertanya kepada dokter, itu karena apa, aku ingin tau, kenapa aku ditolak, karena itu rasanya pahit sekali saat ditolak.
Kita mungkin bisa berbohong akan kesehatan kita, tp badan tidak akan pernah bohong.
Well, ternyata aku tidak se sehat yang kuharapkan.
Thanks God, for remind me
Selengkapnya...
Wednesday, 18 March 2009
Hidup ini indah...Percayalah!!
Jakarta...
tidak pernah terfikirkan dalam benak ini aku akan berada di sini dalam waktu yang lama. Menurutku, Jakarta terlalu jauh dari kepribadianku. Ia terlalu besar dan megah, ramai dan penuh dengan hiruk pikuk. Ia juga sangat keras dan misterius, begitu banyak hal di kota ini yang membuat saya kerap meghela nafas panjang.."Hhhaaaaahhhmmmm......"
Kadang setiap pagi aku berjalan dari kostan dan menatap langit yang dihiasi awan, sesekali terik matahari pagi turut menyapa dibalik gedung tinggi.
Langit terlihat biru muda, dan terlihat tidak begitu bening.
Aku menatap langit, pohon dan gedung, parkiran motor ditepi jalan, dan seakan tubuh ini memberontak, aku pun menghela nafas yang panjang...
Ada apa dengan semua ini? Bisakah aku merasakan kebahagiaan menghirup udara dikota tempat aku bekerja tanpa ada helaan nafas yang sebenarnya tidak aku rencanakan?
Aku muak, muak dengan segala pilihan yang kujalani.
Aku tidak menyesal, aku lagi mencari jalan keluar, dan aku yakin itu pasti ada
Selengkapnya...