Saya bukanlah orang yang suka sok perhatian ataupun yang bisa memberikan perhatian yang berlebihan kepada keluarga, teman ataupun pacar sekalipun. Bukannya tidak ingin menjadikan hubungan yang lebih dekat, namun sejak kecil saya diajarkan untuk mandiri dan tangguh. Mama dan Papa saya bukanlah seperti orang tua di film yang senang bermain dengan anaknya saat masih kecil. Sebab saya sama sekali tidak punya kenangan itu. Mereka mengajarkanku untuk dapat melakukan banyak hal sendiri dan tidak cengeng. Bahkan kakak-kakakku tidak pernah memanjakanku. Saya masih ingat saat ingin membaca komik milik salah satu kakakku saja saya harus membayar uang sewa. Saat Papa mengetahui hal itu, beliau mengatakan, "Biar bapak yang bayar." namun kakak saya melarang dan mengatakan agar saya jangan dimanaja. Demikian masa kecilku yang penuh dengan persaingan dengan salah seorang kakakku yang berbeda 6 tahun dariku.
Saya tidak pernah menyesali ataupun sedih atas apa yang saya lalui saat masih kecil. Saya percaya semua itu yang membuat saya kuat dan mampu bertahan hidup sendiri saat kuliah di Bandung. Disaat teman-teman cowok mendapatkan kiriman bulanan 1 juta/bulan saya yang cewek bisa hidup dengan hanya 500.000. Nominal yang sama saya dapatkan setiap bulan sejak tahun 2003 hingga tahun 2008. Nominal ini yang saya pakai untuk membiayai seluruh kehidupan saya mulai dari makan, minum, fotokopian, materi kuliah, peralatan kuliah, pulsa telepon, hingga peralatan sehari-hari seperti baju, tas, sepatu, dll. Saya tidak pernah meminta uang tambahan sepeserpun bahkan saya mampu pergi jalan-jalan keliling jawa, sumatera, bali hingga lombok. Saya ingat saat pertama kali saya meminta ijin pada mama untuk melakukan perjalanan ke luar kota, mama hanya mengijinkan asal tidak ada tambahan kiriman uang. Saya tidak meminta tambahan uang, saya hanya meminta ijin untuk pergi.
Meskipun saya sangat jarang membeli baju baru, makan jarang yang mewah-mewah, namun jelas pengeluaranku jelas lebih dari 500.000 per bulan. Mungkin ditahun-tahun awal 2003 jumlah tersebut adalah cukup, namun setelah inflasi berkali-kali, ditahun 2005 dan setelahnya jumlah tersebut pasti kurang. Saya bahkan sering menemukan diri saya di akhir bulan (saat kiriman belum datang) sama sekali tidak punya uang sepeserpun. Untungnya saya aktif organisasi di Mapala Kampus, saat uang sudah habis saya cukup ke sekretariat dan menemukan beberapa orang yang senasib dengan saya. Menghibur dan melegakan menemukan teman yang senasib. Lalu beberapa saat kemudian datang beberapa kawan lain yang tidak senasib membawa nasi bungkus untuk makan siang. Lalu kami makan bersama-sama. Masalah tidak punya uang buat makan dapat selalu terselesaikan. Jangankan masalah uang untuk makan, masalah dana untuk jalan-jalan pun selalu saya temukan jalannya.
Pilihan saya untuk masuk sebagai anggota Mapala memang sangat tepat. Dengan hobi saya jalan-jalan, saya bisa dengan mudah membuat proposal kegiatan ke kampus untuk jalan-jalan. Sangat jarang mendapatkan dana secara full, namun bantuan kepeng dari kampus sangat banyak membantu kegiatan jalan-jalan saya dan saya sangat menikmati itu. Disamping itu, hubungan kekeluargaan diantara para Mapala disetiap daerah sangat kuat. Sehingga tradisi membayarkan makan kepada tamu itu sangat amat mengharukan untuk saya yang memang selalu tidak bawa uang banyak (haha) . Suatu ketika saya ingin membayar makan malam saya sendiri, lantas teman dari salah satu Mapala di Surabaya mengatakan, "Uang orang Bandung tidak berlaku disini" kemudian dia membayarkan makanan kami semua hingga kami bertolak pulang ke Bandung.
Saat liburan tiba, biasanya saya dan teman-teman suka main ke Jogja, asalkan punya uang 50rb kami sudah berani pergi ke Jogja. Biaya PP dengan kereta ekonomi saat itu 23.000 x 2 = 46.000. Sisa 4000 untuk keadaan darurat dan selebihnya biaya makan, tempat tinggal dan transportasi di Jogja itu tidak perlu dipikirkan lagi. Pernah juga saya naik gunung selama 3 hari hanya menghabiskan dana 30.000 untuk transport PP, hingga logistik. Selain saudara-saudara saya di Astacala (Mapala tempat saya tumbuh), tidak ada yang tahu bagaimana saya bertahan hidup seperti diatas. Pernah suatu kali saya naik gunung Argopuro dan setelah dari sana saya langsung bertolak balik ke kampung halaman. Disanalah pertama kalinya Papa dan Mama tahu kalau saya suka naik gunung. Saat itu Papa saya melihat semua perlengkapan mountaineering saya dan beliau cukup takjub sebab saya memiliki semua itu. Ternyata tidak, semua itu pinjaman :D. Mulai dari sepatu tracking, tas carrier, rain coat, hingga pisau lipat adalah pinjaman. Yang saya miliki pribadi hanyalah baju-baju dan dalaman. Papa saya hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala melihat anak ceweknya suka naik gunung dengan barang-barang pinjaman. Hahaha. Tentu saja pinjaman karena saya tidak memiliki cukup uang untuk membeli perlengkapan tersebut.
Kembali pada paragraf awal, dimana saya menyebutkan saya bukanlah orang yang bisa sok perhatian atau memberikan perhatian yang berlebihan kepada orang lain. Yah, saya kami ditempa dengan keras, tegas dan tidak cengeng. Bagaimana saya bisa mengajarkan adik-adik junior saya di Astacala kalau saya cengeng? Tentu kami semua saling memperhatikan satu sama lain dan saling menolong satu sama lain, namun sekali lagi tidak dalam konteks yang "mau dimanja" sama sekali bukan itu bentuk perhatian yang kami kembangkan dalam menciptakan hubungan di dalam keluarga besar ini. Dan mungkin inilah letak dimana kekeliruan ini bermula.
Tidak semua orang bisa diperlakukan sama apalagi bila orang tersebut tumbuh pada masa dan jaman yang berbeda. Ya, orang yang yang lebih tua atau yang dituakan itu ternyata jauh lebih sensitif perasaannya. Saya tidak tahu itu. Saya menganggap semua orang sama. Bila saya tidak suka diperlakukan seperti itu, maka saya tidak akan melakukannya pada orang lain dan bila saya merasa "it's okay" dengan sebuah tindakan, maka pastinya orang lain juga akan bersikap, "it's okay." Ternyata ini konsep yang SALAH TOTAL. Saya menyadari, dan hal ini saya sadari cukup lama. Saya merasa hubungan saya dengan salah seorang kerabat saya, adik dari mama (tante), tidak cukup harmonis. Dari hasil analisis saya, hal ini disebabkan pada suatu masa saya pernah tinggal bersama beliau yang mana tidak menikah dan memiliki siapa-siapa di rumah. Saya sama sekali tidak tahu menahu apa yang diinginkan oleh tante saya ini. Hingga akhirnya secara tidak langsung beliau mengusir saya secara tidak langsung dari rumahnya. Sangat sepele, masalahnya hanya karena Senin-Jumat saya bekerja dan Sabtu-Minggu saya main dengan teman saya (sebenarnya pacaran). Beliau merasa tidak diperhatikan dan merasa situasinya sama saja saat beliau tinggal sendiri. Beliau menganggap saya tidak punya waktu untuk keluarga dan hanya peduli dengan teman-teman saya. Akhirnya tante saya itu berkata, "Bila kamu lebih suka main dengan teman-temanmu, ya lebih baik kamu kos saja."
Saat itu saya langsung mencari kos dan pindah. Saya tidak ingin terlalu pusing dengan masalah-masalah yang buat saya hanyalah dibesar-besarkan. Saya tidak begitu peduli dan saya menganggap hal tersebut terjadi karena tante saya itu sudah terlalu lama hidup sendiri dan sulit baginya untuk hidup bersama orang lain. Kemudian saya melanjutkan hidupku tanpa pernah dipusingkan oleh masalah ini lagi.
Tahun berganti tahun, saya berubah. Jujur saya katakan saya berubah karena saya menjadi lebih positif dan lebih perhatian. Saya merasakan hal ini sangat jelas. Saya biasanya merasa tidak terlalu penting untuk menanyakan kabar, namun sekarang saya sudah lebih sering menanyakan kabar. Setidaknya dalam seminggu saya ada menanyakan kabar tante saya itu. Saya ingin membangun kembali hubungan yang mungkin kurang indah sebelumnya dan mengingat usia tante saya yang sudah 60an tahun hidup sendiri, pastinya beliau ingin diperhatikan lebih dari sebelumnya. Usaha saya ini jelas tidaklah semulus dan seindah harapanku. Semuanya menjadi semakin berat sebab segala usaha yang kulakukan selalu di counter back dengan sinisan dan sindiran. Entahlah, mungkin tante saya ingin dimanja, namun saya hanya bisa memberikan perhatian standar. Saya bukannya tidak mau memanjakan tante saya, namun semuanya lagi-lagi tidak seindah harapan saya.
Cerita perjuangan saya memberi perhatian kepada tante saya akan saya tuliskan pada tulisan selanjutnya. :)
No comments:
Post a Comment