Semenit yang lalu, saya membaca blog seorang kawan...
Seketika pikiranku melayang terhadap sesosok sahabat lama yang kini tlah pergi
Ia sahabatku, sahabat pertamaku. Ia menemukanku, dan aku menemukannya.
Kami bersama sejak SD sampai akhirnya saat lulus dari SD Ia pergi ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Berpisah dengannya sungguh membuatku sedih.
Aku menangis semalaman, meraung raung sampai mataku bengkak
Aku seakan menyalahkan diriku sendiri yang egois karena sehari sebelum kepergiannya ke Jakarta aku sempat marah padanya
Sampai akhirnya Ia pergi tanpa pamit padaku. Aku tidak sempat mengucapkan salam perpisahan sampai akhirnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya atau bahkan mendengar suaranya.
Aku mencarinya, dan aku menemukannya lagi.
Aku menemukan alamatnya di Jakarta dan aku mulai menuliskan surat pertamaku dengan linangan air mata karena sedih yang mendalam. Saat itu aku masih sangat kecil, namun hati kecil ini tau, Ia sahabatku yang sangat aku sayang.
Waktu itu belum ada jamannya hand phone, sms bahkan email. Surat menyurat adalah cara yang umum digunakan.
Saat menerima surat balasannya yang pertama, hati ini sangat bahagia, aku sangat berseri-seri sebab aku tetap bisa melanjutkan kisah persahabatanku dengannya.
Setiap bulan aku pasti akan menerima satu surat dari nya, dan aku akan segera membalas surat itu. Aku masih ingat, saat pulang sekolah, hal pertama yang kulakukan begitu sampai didepan pintu rumah, adalah membuka kotak surat.
Saat menemukan surat balasannya, rasanya aku menemukan harta karun dan senyum diwajahku menemaniku berjalan menuju pintu rumah. Aku melewati masa-masa puberku bersamanya, banyak kisah yang kami ceritakan dan aku sangat bahagia bisa berbagi dengannya. Kadang aku egois bila Ia terlambat mengirimkan surat, aku akan segera mengirimkan surat lagi padanya dan bertanya mengapa Ia terlambat mengirimkan surat. Sejak saat itu Ia tidak pernah terlambat lagi mengirimkan surat, sebab Ia tau, aku sangat khawatir bila Ia tidak segera membalas suratku.
Kami melewati persahabatan ini selama lebih dari 4 tahun hanya melalui surat menyurat, tanpa email bahkan tanpa telepon. Kini Ia tlah pergi, 8 tahun yang lalu, tanpa sempat kumengucapkan salam perpisahan untuk yang terakhir kali. Mungkin kau tidak pernah ingin mendengarkan kata perpisahan itu sehingga kamu pergi selalu tanpa pamit padaku. Aku hanya bisa turut mengantarkan abu mu ke peristirahatanmu yang terakhir di dunia. Semua surat-suratmu aku simpan dengan baik, aku tidak berani membacanya lagi, aku pasti akan menangis. Kenanganmu akan selalu bersamaku, sebab persahabatan kita kekal tak dimakan waktu
Aku yakin, kita pasti akan bertemu lagi
Dalam kenangan, Indri..
Traveling with Mom
6 years ago
No comments:
Post a Comment